Senin, 20 Juni 2011

that's call l.o.v.e / part 8 "TRAGEDY"

" kenapa ? salah gua apa? sampe sampe gua di sakitin terus sama cowo yang sama? " itu yang terlintas di pikiran putri saat ini, air mata selalu berlinang tidak satu kata pun yang dia ucapkan sampai morgan datang
"kenapa lu gak kasih tau gua kalo rafael udah punya pacar? lu tega liat gua kayak gini?" tanya putri kepada morgan
"pertama gua mikir kalo harusnya rafa yang bakal mutusin semua ini" jawab morgan singkat
"ada masalah apa sih rafa sama gua? kenapa dia kayak gini sama gua? "
"dia gak ada masalah sama lu, gua tau dia tulus sayang sama lu, cuman masalah waktu aja"

di sisi lain, gladys terus menangis menerima kenyataan kalau rafael sudah tidak menganggapnya sebagai pacarnya
"dys " sapa rangga, mendengar suara rangga, gladys pun langsung memeluk rangga sambil menangis
"jadi mereka pacaran?"
"iya, sebelum kamu dateng mreka udah pacaran dys"
"emang orang tua mereka siapa sih? sampe-sampe rafa bisa suka sama dia?!"
"bukan siapa-siapa , cuman anak beasiswa orang tua nya tukang pos"
setelah itu, gladys pergi lalu menghampiri rafael
"raf, aku minta maaf , aku udah relain semuanya, aku gak tau kalo kamu udah ada pacar raf" ujar gladys
rafael hanya diam dan sama sekali tidak menatap wajah gladys
"aku janji, aku akan bilang ke putri , aku akan jelasin semuanya baik-baik sama dia" sambung gladys
"kamu yakin?"
lalu gladys hanya mengangguk dan pergi
"jadi lu yang namanya putri?" tanya gladys singkat
"i iya, tenang aja, gua udah gak ada hubungan apa-apa kok sama pacar lu, sorry gua gak tau sebelumnya kalo dia itu pacar lu"
"pacar lu put, bukan pacar gua, gua udah gakpapa kok, gua aja yg kepedean kalo dia masih nganggep gua pacarya, sorry yah put , gimana hubungan lu sama rafa? baik-baik aja kan?"
"gua udah gak ada hubungan kok sama dia, jadi .."
"loh put, kok gitu sih, hubungan kalian gak seharusnya berakhir, kalian harusnya masih sama-sama dong, udah deh gw gak mau buat kalian putus, pokoknya sekarang lu ikut gua ketempat mreka"
"tapii, dys .. "
"udah diem aja" ujar gladys singkat sambil menarik putri ketempat anak-anak sm*sh berkumpul
"gladys ?! kok ada putri? tanya reza
"iya, putri mau ngomong sama rafa hahhaa" jawab gladys
"kamu mau ngomong apa put?" tanya rafa
"ngak ngak ada" jawab putri sinis
"aduh, putri tuh masih sayang sama kamu raf, kamu juga kan? jadi kalian gak usah putus yah , aku gak mau jadi penghalang hubungan kalian " ujar gladys lalu meninggalkan mreka berdua dan menghampiri rangga
"kamu gpp dys?" tanya rangga
"aku gpp kok, iya , " jawab gladys singkat
rahel yang bingung melihat perlakuan baik gladys terhadap putri menyadari bahwa ada yang aneh dengan gladys,
KRINGGGG, bunyi bel pulang skolah pun berbunyi,
"putri!" panggil rahel
"kenapa hel?"
"aku main yah ke rumah kamu, yaaaa?"
"ha? mau ngapain? rumah aku kecil gak ada apa apa lagi"
"ih, emag nya aku mau ukurin rumah kamu apa, gpp aku mau belajar bareng ada beberapa pelajaran yang aku gak ngerti"
"tapi,"
"udah aku kerumah kamu yah pake mobil aku aja" ujar rahel
merekapun belajar bareng dan setelah selesai belajar reza ingin menjemput rahel di rumah putri
"put aku pulang dulu yah" ujar rahel
"reza kan belom jemput ?"
"gpp lah, aku tunggu di depan aja, duluan yah put "
saat keluar gang rahel melihat ada warung minuman di sebrang jalan, karna haus rahel memutuskan untuk menyebrang jalan tapii
"aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa " triakan rahel menandakan rahel tetabrak sebuah mobil box
seluruh jalanan di penuhi orang-orang yang ingin melihat ada apa di sana, jalanan pun menjadi macet
"duh, kok macet ada apaan sih" reza yang sedang berada di jalanan pun turun untuk melihat apa yang terjadi, dia sangat shock melihat rahel yang sudah berdarah karena tertabrak mobil box dan segera membawa ke rumah sakit , segera pula dia menghubungi anak-anak sm*sh dan putri , kejadian tersebut membuat rahel yang polos harus mengalami lumpuh , walaupun hanya sementara tapi dokter belum bisa memastikan sampai berapa lama dia harus menggunakan kursi roda
"kenapa bisa sih? shit! abis ini apa lagi? kenapa sih za lu bisa telat jemput rahel! " triak rafa sambil memukul temok hingga tangannya berdarah
"raf! sekarang bukan saatnya kamu marah ini bukan salah reza, siapa yang tau sih kalo rahel bakal kayak gini? ini emang udah jalan tuhan raf!" cegat putri
"iya raf, kita semua gak ada yang tau. udah lu sabar yah, mending sekarang kita pikirin gimana caranya ngomong ke rahel " bisma pun ikut meredahkan emosi rafael
mereka semua pun akhirnya masuk kedalam kamar rumah sakit, tak berapa lama kemudian rahel pun sadar
"ko, ko rafa" suara kecil sangat kecil dari mulut rahel terdengar
"rahel, kamu gpp? " sambil memegang tangan rahel
"aku gpp ko, tapi "
"kenapa hel? tapi apa?"
"kaki aku kenapa kaku ko? kok gak bisa gerak?" rahel mulai panik, tidak ada satu pun yang berani memberiahu rahel kalau dia harus lumpuh
"kenapaa?! kenapa semua diem? kenapa aku kenapaa? " rahel mulai berteriak dan mulai menangis
"ko aku kenapa ko?" rahel pun berbisik ke rafael
"reza, za aku kenapa?" rahel berbisik kepada reza juga
"kenapa aku kenapa semua diem? aku kenapa semua jawab tolong!" triak rahel
"kamu, kamu yang sabar yah hel, " ujar putri
"aku gak ngerti maksut kalian apa?" tanya rahel
"kamu lumpuh sekarang hel" jawab rafael singkat lalu memeluk rahel yang melawan sambil menangis
"ngak! lepasin ! koko bohong kan?! kalian semua bohong kan? gak , gak mungkin aku lumpuh! gak gak mungkin! " rahel terus berteriak, menangis dan mencoba berdiri tapi di tahan oleh reza lalu rahel membanting pot bunga yang ada di meja
"rahel! stop! jangan kayak gitu, lumpuh kamu tuh cuman sementara" bentak putri sambil memeluk rahel
semua prihatin dengan kejadian yang menimpa rahel , rafael , putri , reza menangis karna melihat orang yang dia sayang harus lumpuh
berhari-hari rahel harus menginap di rumah sakit, tidak mau makan dan selalu menangis terus. anak-anak sm*sh dan putri setiap hari selalu menjenguk rahel dan memberikan suppord untuknya, sampai suatu hari
"kenapa ? apa salah aku sampe-sampe aku harus lumpuh?" rahel yang hanya bicara dalam hati terus menangis , dia beranjak dari ranjang dan menurunkan kedua kakinya dan berusaha jatuh dan tidak sengaja menjatuhkan gelas dan pecah , reza yang berada di luar langsung masuk
"rahel! kamu kenapa hel?" triak reza
"lepasin aku! aku gak mau lumpuh aku gak mau!" bantah rahel
"aku gak bisa apa-apa sekarang, masa depan aku udah ancur za! mending aku mati aja!" sambung rahel
mendengar perkataan rahel, reza menjadi marah dan emosi, dia memegang kedua pundak rahel dengan erat
"kamu gila?! kamu nyadar gak sih banyak orang diluar sana cacat permanen , mreka miskin , mreka gak bisa terapi tapi mreka masih bisa usaha buat hidup! mreka yakin mreka bisa ! sedangkan kamu?! kamu cuman cacat sementara, kamu kaya, kamu berpendidikan! tapi apa, kamu malah kayak gini skarang! gak ada usahanya sama skali tau gak!" bentak reza, mendengan perkataan reza rahel yang menggerutu diam dan menangis lalu memeluk reza dengan erat .

Tidak ada komentar: